Sebelum kita mengenali lebih jauh apa saja yang menjadi penyebab epidermolisis bulosa (EB), tak salah apabila terlebih dahulu kita mengulik informasi mengenai penyakit EB. Penyakit ini merupakan penyakit genetik yang berhubungan dengan jaringan ikat. Adanya EB ternyata dapat menimbulkan pelepuhan dan mudah rapuh pada kulit. Timbulnya pelepuhan dapat terjadi ketika penderita baru lahir atau sudah memasuki masa remaja hingga awal dewasa. EB dapat diturunkan secara autosomal dominan ataupun autosommal resesif. Namun pada beberapa pasien memiliki kejadian di mana EB yang dialaminya bukan dari mutasi gen dari kedua orangtuanya melainkan mutasi gen secara spontan (tidak berasal dari orangtua). Tak hanya itu, adanya sistem kekebalan tubuh yang lemah juga dapat berpengaruh pada penderita epidermolisis bulosa aquisita.

Seperti yang kita ketahui bahwa kulit tubuh manusia berperan besar dalam menerima rangsang, melindungi tubuh, mengatur penguapan, mengatur suhu tubuh, dan lain-lain. Namun sayangnya kita kurang peka untuk menjaga kulit sehingga ketika lalai tidak menutup kemungkinan akan terjadinya kerusakan dan disfungsi pada kulit. Alhasil mengalami beberapa masalah kulit, salah satunya ialah penyakit EB yang ditandai dengan pelepuhan pada beberapa daerah kulit. Lokasi kulit yang melepuh dapat terjadi pada beberapa bagian kulit, meliputi lapisan bawah (dermis), lapisan terluar (epidermis), atau area membran basal (lokasi pertemuan antara lapisan dermis dan epidermis. Dilansir dari artikel pada alodokter.com, setidaknya ada 18 jenis gen dengan jumlah variasi sebanyak 300 macam yang sejauh ini ditemukan untuk menimbulkan pelepuhan pada kulit pasien. Adapun menurut ilmuwan, selama 15 – 20 tahun terakhir, setidaknya ada 13 gen utama yang memiliki peran utama terhadap kasus EB. Meskipun penyakit ini tidak dapat dihindari sebab umumnya karena campur tangan genetik, setidaknya kita perlu melakukan pencegahan dengan mengetahui penyebab epidermolisis bulosa.

READ  Kiat-Kiat Cara Mengobati Epididimitis Yang Layak Dipertimbangkan Untuk Dicoba

Bagi anda yang ternyata menyadari akan adanya penyebab epidermolisis bulosa maka sebaiknya lekas berkunjung ke dokter. Untuk awalnya dokter pasti akan melakukan diagnosis untuk penyakit EB agar tahu kondisi pasien. Caranya yaitu dengan memanfaatkan sampel kulit untuk uji lab menggunakan mikroskop. Apabila hasil diagnosis dari dokter menyatakan bahwa pasien memang terjangkit EB, maka ambillah keputusan untuk melakukan pengobatan sebelum terlambat. Menurut halodoc.com, pengobatan yang dapat dilakukan oleh pasien beragam, diantaranya:

  1. Melakukan terapu rehabilitasi
  2. Memberikan beberapa jenis obat-obatan
  3. Prosedur Operasi
  4. Beberapa pengobatan lain yang masih dalam tahapan pengembangan.

Berdasarkan beberapa saran pengobatan alternatif yang dapat dilakukan salah satunya dengan prosedur operasi. Prosedur ini hanya dapat dilakukan untuk membenahi fungsi organ yang mengalami gangguan setelah munculnya penyakit ini atau setelah terjadinya peningkatan kemampuan tubuh untuk memakan makanan yang bergizi dan sehat. Operasi yang dilakukan berupa pemasangan gastrostimi, pelebaran esofagus, transplantasi kulit, hingga pemulihan kemampuan gerak (mobilitas) di dalam organ tubuh. Adapun pengobatan lain yang masih dalam tahapan pengembangan yaitu, melakkan terapi gen, transplantasi sumsum tulang, teraoi berbasis sel, dan penggantian protein.

READ  Manfaat Mengonsumsi Makanan yang Berserat untuk Kesehatan

Apabila pasien EB tidak segera ditangani maka akan membuat kesehatannya semakin memburuk. Dikutip dari artikel honestdocs.id, jika penyakit ini sudah parah maka dimugkinkan pasien akan mengalami komplikasi, seperti karsinoma sel skuamosa (SCC), kanker kulit, dan lain-lain. Adanya kanker jenis ini ternyata menjadi penyebab utama kematian seorang remaja yang resesif terhadap distrofik (RDEB) dan awal dewasa. Kanker ini memiliki sifat sangat invasif dan agresif terhadap pasien EB. Oleh karena itu, tujuan lain dari melakukan pengobatan ialah untuk menghindari perkembangan atau penyebaran kanker agar terlambat.

 

sumber gambar: alodokter.com