Distonia merupakan suatu kondisi medis berupa gerakan otot berulang secara tidak sadar. Timbulnya kondisi ini menyebabkan terus terjadi kontraksi otot tanpa terkontrol. Fungsi otak menjadi tidak mampu lagi mengontrol gerakan otot dan berisiko menyebar dari satu bagian tubuh ke seluruh tubuh, bahkan bisa berkembang menjadi komplikasi.

Gejala Distonia

Menghadapi fakta adanya gangguan kesehatan berupa gerakan berulang atau spasme otot ini, diharapkan Anda mengetahui gejalanya sejak dini. Tujuannya agar dapat mengatasinya secepatnya dengan tepat. Gejala yang dapat dialami oleh penderitanya adalah merasakan kedutan atau gemetar (tremor) pada bagian tubuh tertentu. Anggota tubuh yang mengalaminya bisa berada pada posisi yang tidak seperti seharusnya, misalnya leher dalam kondisi miring atau kondisi seperti memicingkan mata.

Kram otot juga dialami pada bagian yang mengalami distonia. Apabila terjadi pada kelopak mata, terdapat gejala berupa mata berkedip tanpa terkendali dan tidak disadari. Gangguan untuk berbicara dan menelan juga bisa dialami apabila spasme ototnya terjadi di pita suara atau kerongkongan. Mengenai kondisi yang mencemaskan dan mengganggu aktivitas normal penderitanya ini, sebaiknya segera diterapkan cara mengobati distonia yang cepat dan tepat.

READ  Gejala dan Penyebab Distonia yang Perlu Disadari Sebelum Terlambat

Proses Diagnosis Distonia

Setiap kondisi gangguan kesehatan seharusnya segera diperiksakan ke dokter untuk mengetahui gejalanya. Jika sudah mengalami suatu gejala dan tidak juga mereda setelah dilakukan penanganan pertama, maka segeralah bawa ke dokter untuk diperiksa dan memperoleh cara mengobati distonia yang tepat.

Pada tahap pertama, dokter akan melakukan tindakan pemeriksaan diagnosis yang terdiri dari wawancara medis mengenai gejala dan riwayat kesehatan pasien serta pemeriksaan fisik. Pemeriksaan fisik dilakukan guna menentukan gejala serta menelusuri letak otot yang mengalami spasme. Dibutuhkan pemeriksaan penunjang untuk memberikan diagnosis pastinya melalui serangkaian tes.

Tes diagnosis yang dilakukan ada beberapa jenis. Tes pertama adalah EMG atau elektromiografi yang bertujuan merekam aktivitas listrik di otot-otot tubuh. Tes kedua adalah pencitraan, baik menggunakan CT Scan atau MRI yang bertujuan mendeteksi abnormalitas organ dan otot-otot di sekitar tubuh. Pencitraan juga dapat mencari penyebab kondisi ini jika disebabkan oleh stroke ataupun tumor otak.

READ  Yuk Intip Gejala Dan Pencegahan Yang Dapat Dilakukan Bagi Pasien Epidermolisis Bulosa

Cara Mengatasi Distonia

Setelah dipastikan hasil diagnosisnya dan memang dinyatakan positif mengalami distonia, penderita akan diberikan penanganan khusus. Cara mengobati distonia tersebut juga disesuaikan dengan kondisi dan penyebab distonia pada masing-masing pasien itu sendiri.

Pengobatan utama yang diberikan dokter adalah mengurangi kontraksi otot yang menimbulkan spasme otot tubuh yaitu dengan cara memberikan suntikan botulinum toxin (botox). Suntikan tersebut diberikan tepat di area otot yang kaku. Suntikan ini diulang setiap 3 bulan sekali. Sayangnya, obat ini hanya mampu bertahan sampai beberapa bulan.

Selain cara mengobati distonia lewat obat suntikan tersebut, terdapat pemberia obat-obatan medis oleh dokter guna meringankan gejala dan agar dapat berangsur menghilang. Dikutip dari alodokter.com, obat-obatan tersebut adalah diazepam, baclofen, lorazepam, clonazepam, dan trihexyphenidyl yang semuanya mampu memengaruhi sinyak di otak agar kondisi penderita bisa berangsur normal kembali.

READ  Kenali Pantangan Maag Agar Tidak Kambuh Saat Sibuk!

Tindakan fisioterapi termasuk dalam cara mengobati distonia. Fungsinya adalah untuk meregangkan otot yang kaku dan mengembalikan kontraksi otot. Metode fisioterapi dilakukan dalam beberapa tahap dan sudah dijadwalkan terapis sampai keluhan tertangani dengan sempurna. Terapi relaksasi otot lainnya yang bisa dicoba yaitu yoga dan pilates.

Rujukan untuk dilakukan operasi atau bedah, tentu menjadi pilihan terakhir jika memang diperlukan. Opsi terakhir ini dilakukan apabila muncul distonia berat ataupun yang tidak dapat ditangani oleh obat-obatan. Meski akan dilakukan tindakan operasi, sebaiknya tetap dilakukan setelah faktor penyebab distonia ditangani terlebih dahulu.

 

Sumber artikel:

www.alodokter.com

www.halodoc.com

www.honestdocs.id

 

Sumber gambar:

www.halodoc.com