Distonia adalah suatu kondisi medis berupa timbulnya gerakan otot secara tidak sadar. Kondisi ini menyebabkan adanya gerakan berulang yang tidak terkontrol. Fungsi otak menjadi tidak normal karena tidak mampu mengontrol gerakan otot ini dan berisiko menimbulkan distonia yang menyebar dari satu bagian tubuh ke bagian tubuh lain bahkan bisa seluruh tubuh. Akibat gerakan otot ini, penderitanya mempunyai postur tubuh yang aneh dan mengalami gemetar (tremor).

Gejala Distonia

Gerakan otot berulang ini juga disertai kejang dan bisa bertahan lama. Akan tetapi, konteks kejang dan distonia ini mempunyai perbedaan. Banyak faktor yang dapat menyebabkan adanya gerakan tidak terkontrol ini, meskipun penyebab utamanya belum diketahui. Kondisi ini bisa dialami anak-anak ataupun orang dewasa.

Kontraksi otot tanpa sadar yang disebut juga dengan istilah spasme ini bisa muncul dalam intensitas ringan sampai berat dan menganggu aktivitas sehari-hari penderitanya. Pada umumnya, kondisi ini dimulai dari gerakan tidak sadar pada otot-otot kecil, seperti jari-jari tangan, wajah, leher, dan semakin menjalar ke bagian otot-otot besar lainnya.

READ  Manfaat Mengonsumsi Makanan yang Berserat untuk Kesehatan

Distonia adalah kondisi serius yang dapat memengaruhi satu bagian tubuh (distonia fokal), dua atau lebih bagian tubuh yang berhubungan (distonia segmental), atau bahkan seluruh bagian tubuh (distonia general). Hal ini sangat memengaruhi pergerakan penderitanya dengan kontraksi otot (spasme) yang bervariasi. Bagian yang sering mengalami gangguan ini adalah leher, kelopak mata, rahang atau lidah, dan kotak suara serta pita suara.

Faktor Risiko Distonia

Dikutip dari alodokter.com, distonia bukanlah penyakit yang sering dijumpai. Tercatat, penyakit ini dialami oleh 1% populasi dunia dengan jumlah wanita lebih besar dibandingkan pria. Berbicara tentang risiko mengalami gangguan ini, terdapat berbagai faktor risiko yang harus Anda pahami sejak dini sebagai bentuk kewaspadaan terhadap kondisi ini.

READ   Gejala, Proses Diagnosis, dan Cara Mengatasi Distonia

Kondisi genetik tertentu sangat berpengaruh pada kemungkinan mengalami distonia. Penyakit atau kondisi medis tertentu, misalnya penyakit Wilson, Huntington, atau Parkinson, juga lebih berisiko. Apabila mengalami cedera otak traumatik, ke depannya bisa lebih berisiko mengalami gangguan gerakan tak terkontrol ini. Kondisi stroke sangat mungkin menjadikan Anda menderita distonia. Kekurangan oksigen dan keracunan karbon monoksida juga harus dihindari karena juga bisa memicu.

Kondisi serius berupa infeksi yaitu tuberkulosis dan ensefalitis juga sangat berpengaruh. Tumor otak atau kelainan otak lainnya yang disebabkan kanker juga sangat berisiko menimbulkan distonia. Terakhir, faktor risiko yang menyebabkan distonia adalah adanya reaksi terhadap pengobatan tertentu.

Penanganan Distonia

Pada tahap awal, dokter melakukan wawancara medis mengenai gejala dan riwayat kesehatan pasien. Setelah itu, dokter melakukan pemeriksaan fisik. Apabila diperlukan, dokter akan melakukan pemeriksaan penunjang, di antaranya adalah pemeriksaan darah atau urin, pemeriksaan MRI atau CT Scan, dan EMG.

READ  Gejala dan Penyebab Distonia yang Perlu Disadari Sebelum Terlambat

Jika penderita dinyatakan positif mengalami distonia, maka pengobatan distonia yang dilakukan adalah pemberian obat-obatan medis sampai fisioterapi. Suntikan yang bisa bekerja menghambat senyawa penyebab kekakuan otot agar tak sampai memengaruhi target otot sasaran juga diberikan. Fisioterapi seperti pijat dan peregangan otot juga diterapkan kepada pasien untuk meredakan nyeri otot, terapi bicara, terapi sensorik guna mengurangi kontraksi otot, dan latihan pernapasan juga yoga, semuanya diterapkan.

Mengenai langkah operasi, hal ini akan dilakukan sebagai opsi terakhir dan hanya akan dilakukan jika memang diperlukan. Dalam kondisi jika tidak bisa diobati dengan obat-obatan dan tindakan pengobatan lainnya, dilakukanlah tindakan bedah berupa operasi stimulasi otak dalam dan operasi denervasi selektif.

 

sumber artikel:

www.alodokter.com

www.halodoc.com

www.honestdocs.id

 

sumber gambar:

www.unisaudems.org.br

www.halodoc.com