Yuk Intip Gejala Dan Pencegahan Yang Dapat Dilakukan Bagi Pasien Epidermolisis Bulosa

Kasman
Posted in Blog

 

Epidermolisis bulosa merupakan penyakit langka yang akan membuat kulit melepuh dan rapuh. Adanya lepuhan ini digambarkan sebagai respon akibat adanya cidera ringan, baik itu berasal dari goresan, gosoan, pita perekat, panas, dan sebagainya. Tak menutup kemungkinan bahwa pelepuhan juga akan terjadi pada selaput perut dan mulut anda. Selain itu, ternyata umumnya penyakit ini merupakan penyakit genetik/keturunan. Oleh karena itu, penyakit ini tidak akan sembuh hanya dengan menggunakan obat oles saja. Sebab penyakit ini tidak dapat diobati walaupun pasien akan merasa baikan setelah usia bertambah. Biasanya pasien hanya akan melakukan perawatan agar mencegah pelepuhan yang baru. Cukup ekstrim bukan? Makanya yuk intip beberapa gejala epidermolisis bulosa yang dapat kamu deteksi sejak dini agar dokter mampu melakukan penanganan dan pencegahan yang lebih baik sebelum terlambat.

Menurut kutipan dari laman sehatq.com, penyakit ini terjadi akibat adanya satu atau lebih mutasi gen, yang mana setidaknya ada 20 gen yang berbeda. Timbulnya gejala epidermolisis bulosa sebenarnya bervariasi didasarkan atas jenisnya. Namun di bawah ini ada beberapa pertanda yang dapat kamu perhatikan, antara lain.

  1. Kulit seperti menipis (bekas luka atrofi).
  2. Kuku yang tidak terbentuk dan tebal.
  3. Kuli terasa menyakitkan dan gatal.
  4. Munculnya masalah gigi, contoh adanya kerusakan gigi yang diakibatkan oleh enamel yang terbentuk ternyata buruk.
  5. Timbul lepuhan di dalam tenggorokan dan mulut.
  6. Kulit mengalami kerapuhan dan mudah lecet, khusunya bagian kaki dan tangan.
  7. Mengalami kesulitan dalam menelan (disfagia).
  8. Terjadi penebalan kulit pada daerah telapak kaki dan telapak tangan.
  9. Adanya jerawat atau benjolan pada kulit yang putih dan kecil (milia).
  10. Kulit kepala mengalami pelepuhan, serta timbul rambut rontok (alopecia parut) dan jaringan parut.

Setelah mengetahui gejala epidermolisis bulosa di atas, maka kita perlu tahu bagaimana cara melakukan pencegahan timbulnya penyakit tersebut. Yang perlu dilakukan ialah mencegah adanya infeki dan lecet pada anak sebab sangat sulit untu mencegah secara keseluruhan. Apa saja? Berikut penjelasannya sesuai kutipan pada halodoc.com.

  1. Menutupi permukaan keras yang menjadi alasnya disekitar anak. Contohnya memberikan alas kursi mobil dengan menggunakan selimut yang lembut dan tebal. Anda juga dapat memberikan alas handuk tebal pada bak mandi.
  2. Kelembaban kulit harus tetap terjaga. Anda dapat memakai pelembab kulit, misalnya petroleum jelly.
  3. Pasien yang masih anak-anak sebaiknya dirawat dengan baik dan lembut. Posisikan mereka di atas bahan yang lembut, contohnya kapas. Seringlah menggendong mereka dan memeluknya. Cara menggendongnya pun juga harus berhati-hati. Jangan menggendong dan mengangkat mereka dari bawah lengan. Jadi sebaiknya angkat mereka dimulai dari bawah leher dan bawah bokong.
  4. Memakai pakaian berbahan lembut pada anak. Usahakan pakaian tersebut mudah dilepas dan dipasangkan.
  5. Memperhatikan area popok pada anak. Apabila anda ingin memakaikannya popok maka dianjurkan untuk melepaskan pita elastis. Anda dapat melapisi popok dengan jel atau losion anti-lengket. Sebaiknya hindari penggunaan tisu pembersih.
  6. Ketika anak tumbuh maka ia cenderung aktif dan ingin melakukan segala aktifitas. Oleh karena itu sitimulasikan mereka untuk melakukan kegiatan yang tidak mengakibatkan cidera kulit.Contohnya olahraga berenang. Tak hanya itu, lindungi mereka dengan memilihkan pakaian lengan panjang untuk aktivitas luar ruangan.
  7. Mengupayakan lingkungan rumah agar tetap sejuk. Anda dapat mengatur termostatnya sehingga suhu rumah stabil dan tetap sejuk.
  8. Mencegah terjadinya goresan di kulit dengan memotong kuku anak secara rutin. Jika perlu, anda dapat memakaikan sarung tangan disaat anak masih tidur agar terhindar dari infeksi dan goresan.

Demikian penjelasan mengenai gejala dan pencegahan yang dapat dilakukan untuk menghadapi penyakit ini. Berhati-hatilah serta jaga kesehatan anda dan keluarga.

 

sumber gambar: halodoc.com

Mengulik Penyebab Epidermolisis Bulosa Yang Dapat Mengancam Anda

Kasman
Posted in Blog

 

Sebelum kita mengenali lebih jauh apa saja yang menjadi penyebab epidermolisis bulosa (EB), tak salah apabila terlebih dahulu kita mengulik informasi mengenai penyakit EB. Penyakit ini merupakan penyakit genetik yang berhubungan dengan jaringan ikat. Adanya EB ternyata dapat menimbulkan pelepuhan dan mudah rapuh pada kulit. Timbulnya pelepuhan dapat terjadi ketika penderita baru lahir atau sudah memasuki masa remaja hingga awal dewasa. EB dapat diturunkan secara autosomal dominan ataupun autosommal resesif. Namun pada beberapa pasien memiliki kejadian di mana EB yang dialaminya bukan dari mutasi gen dari kedua orangtuanya melainkan mutasi gen secara spontan (tidak berasal dari orangtua). Tak hanya itu, adanya sistem kekebalan tubuh yang lemah juga dapat berpengaruh pada penderita epidermolisis bulosa aquisita.

Seperti yang kita ketahui bahwa kulit tubuh manusia berperan besar dalam menerima rangsang, melindungi tubuh, mengatur penguapan, mengatur suhu tubuh, dan lain-lain. Namun sayangnya kita kurang peka untuk menjaga kulit sehingga ketika lalai tidak menutup kemungkinan akan terjadinya kerusakan dan disfungsi pada kulit. Alhasil mengalami beberapa masalah kulit, salah satunya ialah penyakit EB yang ditandai dengan pelepuhan pada beberapa daerah kulit. Lokasi kulit yang melepuh dapat terjadi pada beberapa bagian kulit, meliputi lapisan bawah (dermis), lapisan terluar (epidermis), atau area membran basal (lokasi pertemuan antara lapisan dermis dan epidermis. Dilansir dari artikel pada alodokter.com, setidaknya ada 18 jenis gen dengan jumlah variasi sebanyak 300 macam yang sejauh ini ditemukan untuk menimbulkan pelepuhan pada kulit pasien. Adapun menurut ilmuwan, selama 15 – 20 tahun terakhir, setidaknya ada 13 gen utama yang memiliki peran utama terhadap kasus EB. Meskipun penyakit ini tidak dapat dihindari sebab umumnya karena campur tangan genetik, setidaknya kita perlu melakukan pencegahan dengan mengetahui penyebab epidermolisis bulosa.

Bagi anda yang ternyata menyadari akan adanya penyebab epidermolisis bulosa maka sebaiknya lekas berkunjung ke dokter. Untuk awalnya dokter pasti akan melakukan diagnosis untuk penyakit EB agar tahu kondisi pasien. Caranya yaitu dengan memanfaatkan sampel kulit untuk uji lab menggunakan mikroskop. Apabila hasil diagnosis dari dokter menyatakan bahwa pasien memang terjangkit EB, maka ambillah keputusan untuk melakukan pengobatan sebelum terlambat. Menurut halodoc.com, pengobatan yang dapat dilakukan oleh pasien beragam, diantaranya:

  1. Melakukan terapu rehabilitasi
  2. Memberikan beberapa jenis obat-obatan
  3. Prosedur Operasi
  4. Beberapa pengobatan lain yang masih dalam tahapan pengembangan.

Berdasarkan beberapa saran pengobatan alternatif yang dapat dilakukan salah satunya dengan prosedur operasi. Prosedur ini hanya dapat dilakukan untuk membenahi fungsi organ yang mengalami gangguan setelah munculnya penyakit ini atau setelah terjadinya peningkatan kemampuan tubuh untuk memakan makanan yang bergizi dan sehat. Operasi yang dilakukan berupa pemasangan gastrostimi, pelebaran esofagus, transplantasi kulit, hingga pemulihan kemampuan gerak (mobilitas) di dalam organ tubuh. Adapun pengobatan lain yang masih dalam tahapan pengembangan yaitu, melakkan terapi gen, transplantasi sumsum tulang, teraoi berbasis sel, dan penggantian protein.

Apabila pasien EB tidak segera ditangani maka akan membuat kesehatannya semakin memburuk. Dikutip dari artikel honestdocs.id, jika penyakit ini sudah parah maka dimugkinkan pasien akan mengalami komplikasi, seperti karsinoma sel skuamosa (SCC), kanker kulit, dan lain-lain. Adanya kanker jenis ini ternyata menjadi penyebab utama kematian seorang remaja yang resesif terhadap distrofik (RDEB) dan awal dewasa. Kanker ini memiliki sifat sangat invasif dan agresif terhadap pasien EB. Oleh karena itu, tujuan lain dari melakukan pengobatan ialah untuk menghindari perkembangan atau penyebaran kanker agar terlambat.

 

sumber gambar: alodokter.com

Manfaat Mengonsumsi Makanan yang Berserat untuk Kesehatan

Kasman
Posted in Blog

 

Mengonsumsi makanan yang berserat sangat banyak manfaatnya untuk kesehatan tubuh. Sistem metabolisme tubuh jadi normal dan berjalan lancar dengan adanya asupan serat yang cukup dalam tubuh. Dengan demikian, penuhilah kebutuhan serat untuk tubuh agar kondisi kesehatan tetap normal dan terhindar dari berbagai jenis gangguan kesehatan. Kebugaran tubuh juga terjaga jika mengonsumsi makanan kaya serat berikut ini.

  1. Melancarkan Pencernaan

Manfaat mengonsumsi makanan yang berserat memang sangat banyak. Salah satunya adalah melancarkan pencernaan. Serat mampu meningkatkan berat serta ukuran dari feses karena serat menyerap air, sehingga membuat feses lebih lunak dan akhirnya lebih mudah dikeluarkan melalui anus.

Berkaitan dengan hal tersebut, feses yang keras bisa menjadi tanda jika Anda kurang mengonsumsi makanan berserat. Jika dibiarkan terus-menerus, maka hal ini dapat menimbulkan sembelit. Sembelit yang tidak diobati bisa berkembang menjadi wasir yang membuat Anda merasa sakit saat proses BAB ataupun saat duduk.

  1. Menurunkan Kolesterol

Serat dalam bentuk larut air sangat berperan penting menurunkan kadar kolesterol jahat atau LDL di dalam tubuh yang biasanya memicu penyakit kardiovaskular. Serat yang larut air dapat mengikat kolesterol pada sistem pencernaan, sehingga kolesterol tidak sempat diserap oleh tubuh, melainkan dibuang keluar tubuh lewat feses. Penelitian juga menunjukkan bahwa makanan yang tinggi serat bisa menurunkan tekanan darah juga peradangan. Dengan demikian, risiko penyakit jantung, serangan jantung, ataupun stroke, bisa diturunkan.

  1. Mengontrol Kadar Gula Darah

Dikutip dari hellosehat.com, serat bisa memperlambat pengosongan lambung, sehingga bisa memperlambat penyerapan gula oleh tubuh, dan menjaga agar kadar gula darah tidak cepat naik. Mengonsumsi makanan yang berserat tinggi mampu memperlambat penyerapan gula dalam darah, sehingga seseorang yang rajin memenuhi kebutuhan serat hariannya akan terhindar dari terkena diabetes tipe 2 yang merupakan penyakit dalam jangka panjang. Risiko diabetes tipe 2 bagi Anda yang punya riwayatnya juga bisa dicegah lebih optimal dengan rajin mengonsumsi makanan berserat.

  1. Membantu Membentuk Berat Badan Normal

Makanan yang berserat cenderung bisa mempertahankan rasa kenyang lebih lama dibandingkan dengan makanan yang mengandung serat rendah dan tinggi gula. Hal ini menjadikan Anda bisa makan lebih sedikit. Perasaan kenyang tersebut membuat otak tidak mengirim sinyal untuk makan lagi. Selain itu, pada umumnya serat mengandung kalori yang memang lebih rendah, sehingga kalori yang masuk ke dalam tubuh tidak terlalu besar. Makan makanan yang kaya serat bisa membantu Anda menurunkan berat badan atau mencegah Anda mengalami obesitas atau kegemukan.

  1. Menjaga Kesehatan Usus

Memang, tidak ada hubungan langsung antara mengonsumsi makanan yang berserat dengan risiko kanker usus besar. Meskipun demikian, terdapat manfaat bahwa makanan berserat mampu melancarkan sistem pencernaan, termasuk proses BAB. Dengan demikian, usus akan bersih karena tidak ada penimbunan feses yang nantinya bisa menjaga kesehatan usus secara otomatis. Anda akan terhindar dari kemungkinan risiko terkena gangguan usus yang berupa infeksi. Bahkan, risiko peradangan usus buntu yang salah satunya dipicu oleh penimbunan feses juga dapat dicegah.

Kondisi kesehatan tubuh harus diutamakan dan dipikirkan agar bisa tetap beraktivitas dengan lancar dan tanpa merasakan sakit akibat gangguan kesehatan. Anda dapat mengonsumsi buah dan sayur karena mengandung banyak serat. Jenis makanan yang berserat lainnya juga bisa ditemukan dalam oat, kacang-kacangan, dan olahan gandum.

 

Sumber Artikel:

hellosehat.com

www.merdeka.com

 

Sumber Gambar:

tampang.com

www.honestdocs.id

 

Kiat-Kiat Cara Mengobati Epididimitis Yang Layak Dipertimbangkan Untuk Dicoba

Kasman
Posted in Blog

 

Epididimitis merupakan penyakit yang umumnya dialami oleh pria berusia 14 dan 35 tahun. Penyakit ini menyerang alat reproduksi pria, khususnya bagian organ testis dan epididimis. Penyebab utama datangnya penyakit ini kebanyakan berdasarkan ada penyakit menular seksual dan infeksi bakteri. Bakteri akan bergerak melewati prostat, uretra, vas deferens, hingga sampai ke epididimis. Contoh spesies bakterinya antara lain neisseria gonorrhea, chlamydia, dan trachomatis. Namun apabila penyakit ini diderita oleh pria yang memiliki usia di atas 39 tahun, penyebab utamanya kemungkinan ialah bakteri escheria coli. Tak hanya itu, penyakit ini juga dapat terjadi akibat adanya infeksi pada saluran kemih. Bagaimana dengan jamur? Jamur sangat jarang menjadi penyebab penyakit ini, khususnya Mycobacterium spp. Sebelum anda mencari tahu mengenai cara mengobati epididimitis, anda sebaiknya mengenal diagnosis untuk identifikasi benar tidaknya seseorang menderita penyakit ini.

Berdasarkan penelusuran dari laman sehatq.com, dalam pemeriksaan diagnosis kepada pasien, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan ini dilakukan dengan mengecek keadaan epididimis untuk mengetahui ada tidaknya pembengkakan testis, pembengkakan getah bening yang ada di sekitar selangkangan, bahkan cairan yang tidak wajar ditemukan keluar dari penis. Selain itu, dokter akan melakukan rangkaian pemeriksaan lain, yaitu:

  1. Kultur uretra.
  2. Pemeriksaan pencitraan, bertujuan untuk mengecek ada tidaknya penyakit lain yang menyebabkan gejala epididimis. Caranya dengan melihat rincian gambar memanfaatkan USG testis.
  3. Rectal exam, bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya pembesaran prostat akibat adanya infeksi.
  4. Pemeriksaan MRI atau CT Scan ditujukan untuk penentuan kesehatan pasien dengan gejala penyakit yang sama. Contohnya hernia, abses testis, gangren testis, dan hidrokel.
  5. Tes darah, bermanfaat untuk penghitungan jumlah sel darah dalam tubuh agar mengetahui ada tidaknya infeksi.
  6. Pemeriksaan dubur, untuk mengetahui apakah ada atau tidaknya pembesaran prostat.
  7. Memanfaatkan sampel urine untuk uji urinalisis dan kultur urine. Uji sampel ini bertujuan untuk melihat infeksi menular seksual atau infeksi pada saluran kemih.

Prinsip cara mengobati epididimitis ialah untuk meredakan dan memulihkan penyebab infeksinta. Salah satu caranya ialah dengan memberikan antibiotik, baik itu dengan suntikan, infus, ataupun pil. Pemberian antibiotik ini dibedakan menjadi dua golongan menurut dokter. Hal ini karena pada dasarnya pasien mengalami infeksi yang disebabkan oleh lebih dari dua jenis organisme. Apabila anda laki-laki yang berusia kurang dari 39 tahun dan menderita penyakit ini, dokter telah menyarankan beberapa obat yang dapat dikonsumsi, meliputi:

  1. Doxycycline
  2. Levofloxacin
  3. Antibiotik ceftriaxone, ada beberapa bentuk baik itu azithromycin, infus, dan injeksi.

Jenis antibiotik di atas umumnya diminum selama 1 – 2 minggu berturut-turut. Namun bagi anda yang memiliki usia lebih dari 38 tahun dan aktif secara seksual maka dokter menyarankan untuk meminum obat ciprofloxacin, trimethoprim, dan sulfamethoxazole. Dikutip dari alodokter.com, rasa nyeri pada skrotum yang diderita oleh pasien juga dapat dikurangi dengan mengonsumsi ibuprofen oleh dokter. Bagi anda yang ingin mencoba, ternyata ada cara lain yang dapat meminimalisir gejala epididimis bersumber dari honestdocs.id, antara lain sebagai berikut.

  1. Beristirahat yang cukup
  2. Meminum banyak cairan
  3. Mengonsumsi obat anti-inflamasi agar rasa sakit teratasi
  4. Mengangkat skrotum dengan pembedahan

Selain beberapa saran obat di atas, cara mengobati epididimitis yang umumnya dilakukan oleh pasien ialah dengan memakan obat penghilang nyeri atau mengompres alat reproduksi dengan air dingin. Akan tetapi sebelum di kompres, pasien harus menggunakan celana dalam yang mendukung (celana cawat olahraga). Bahkan dokter juga menyarankan untuk melakukan pembedahan apabila muncul nanah. Bagaimana cara mencegah penyakit ini? Sebaiknya anda melakukan hubungan seksual yang aman agar tidak terkena penyakit infeksi menular (PMS) sehingga memicu timbulnya penyakit epididimitis.

 

sumber gambar: halodoc.com

Kenali Pantangan Maag Agar Tidak Kambuh Saat Sibuk!

Kasman
Posted in Blog

Saat sedang beraktifitas, terkadang banyak hal kecil yang kita lewatkan. Seperti misalnya, menjadi kurang waktu istirahat dan mengabaikan waktu makan. Tapi, bagaimana jadinya ketika sakit maag melanda saat sedang sibuk beraktifitas? Wah, bisa jadi rusak semuanya deh! Penyakit ini tidak bisa dikatakan sebagai penyakit sepele, karena banyak apabila gejalanya mulai muncul, sakit yang dirasakan juga tidak main-main. Sebagai penderita maag, ada baiknya selalu menjaga pola makan dan menjauhi pantangannya. Sebelum itu, yuk kita ulik apa penyebab penyakit yang menyerang organ lambung ini terlebih dulu.

Sumber : hellosehat.com

Maag atau bisa disebut juga gastritis adalah penyakit yang menyerang organ ginjal dan memiliki gejala seperti rasa mulas dan perih di bagian perut. Lambung sejatinya merupakan organ yang terus bekerja meskipun tidak ada makanan yang dikonsumsi oleh manusia. Dengan adanya porses pencernaan terus menerus, maka asam lambung akan terus dihasilkan.Reaksi tersebut terjadi disebabkan oleh melemahnya dinding lambung karena asam lambung yang berlebih, sehingga rasa sakit timbul. Jika reaksi ini berjalan terus menerus, maka tidak terhalang kemungkinan peradangan lambung dapat terjadi. Peradangan tersebut juga bisa membuat rasa nyeri yang kuat pada ulu hati. Segala reaksi dari penyakit maag ini diinisiasi oleh pola makan penderita yang tidak sehat dan tidak teratur. Untuk menghindari reaksi dari penyakit maag tersebut, ini dia pantangan yang harus dijaga oleh penderitanya.

  1. Mengatur pola makan

Penderita asam lambung memang mau tidak mau harus bisa menjalani pola makan yang teratur. Karena, penyakit ini merupakan penyakit yang mudah kambuh terutama saat kondisi tubuh sedang tidak fit. Maka, pada saat akan melakukan banyak aktifitas, jangan lupa untuk selalu makan tepat waktu. Bila perlu, pasanglah alarm yang dirancang khusu untuk mengingatkan jadwal kamu.

  1. Hindari konsumsi makan dan minum dengan rasa asam

Saat kesibukan mulai memadat, memang paling cocok mengonsumsi makanan atau minuman asam. Seperti misalnya permen rasa asam, buah lemon dan air perasan jeruk, bisa menyegarkan kembali disaat tubuh mulai lelah. Tapi, ternyata makan dan minum dengan rasa asam harus dihindari, terutama pada saat perut masih kosong.  Mengonsumsi makanan asam nyatanya dapat membuat kadar asam lambung naik dalam perut, dan dapat mennjadi pemicu refluks asam yang memperparah rasa perih di lambung.

  1. Jauhkan diri dari konsumsi makanan pedas

Makanan pedas tampaknya sudah jadi salah satu makanan wajib orang Indonesia. Makan makanan yang pedas bisa membuat efek badan jadi lebih segar dan bisa membakar semangat untuk berkatifitas lebih banyak. Tapi, bagi penderita gastritis, makanan pedas justru berbahaya. Makanan yang terlalu pedas apabila dikonsumsi dalam kondisi perut kosong, ternyata dapat membuat iritasi di dinding lambung lho.

  1. Kurangi konsumsi kopi

Siapa disini yang kalau mulai lelah dan mengantuk memilih untuk meminum kopi sebagai penawarnya? Memang meminum kopi bisa membuat kita lebih fresh, apalagi saat ini kedai kopi sedang marak diamna-mana. Namun, faktanya kopi bisa memicu lemahnya otot di bagian bawah katup kerongkongan manusia. Sehingga, hal itu menjadi sebab asam lambung dapat naik ke kerongkongan, yang pasti rasanya sangat tidak nyaman. Jadi, mulai kurangi konsumsi kopi ya bagi penderita asam lambung.

Sumber : lifestyle.kompas.com

Selain pantangan dalam mengonsumsi makanan tertentu, ternyata pola kebiasaan pada saat makan juga dapat memengaruhi kambuhnya asam lambung. Meskipun dalam keadaan sibuk atau terburu-buru, biasakan untuk makan seperlunya dan tidak terlalu kenyang. Apabila terlalu banyak makan, maka perut bisa meregang lalu memberi tekanan pada otot kerongkongan dan memicu naiknya asam lambung. Jadi, bagi penderita gastritis, jangan lupa tetap menjaga pantangan ya agar maag tidak kambuh saat kamu sedang sibuk beraktifitas!

 

 

Sumber:

Cermati.com

Honestdocs.com

Keajaiban Mengkonsumsi Makanan Mengandung Serat

Kasman
Posted in Blog

 

Dilasir dari laman Sehatq, serat adalah karbohidrat kompleks yang tidak dapat dicerna oleh tubuh. Tidak seperti protein, lemak dan karbohidrat biasa yang dapat diserap dan dipecah oleh organ tubuh, tidak demikian halnya dengan serat. Serat hanya akan melalui organ pencernaan setelah anda makan, lalu dikeluarkan kembali melalui anus. Serat memiliki kemampuan melewati usus dengan cepat tanpa perlu dicerna terlebih dahulu.

Serat sendiri terbagi menjadi dua jenis, yakni serat larut dan tidak larut air. Serat larut adalah serat yang ketika berada dalam pencernaan dapat menyerap cairan sehingga mengubahnya menjadi lebih kental dan massanya akan berubah bentuk seperti gel. Sedangkan serat tidak larut adalah serat yang dapat memberikan kelancaran pada proses pencernaan karena perannya untuk membersihkan saluran cerna.

Ada berbagai macam sayuran, buah, dan kacang-kacangan yang tergolong merupakan makanan yang mengandung serat. Pada sayuran antara lain wortel, buncis, seledri, bayam, lobak, brokoli dan tomat. Pada buah-buahan seperti jeruk, apel, pir, nangka, mangga, dan buah persik. Sedangkan pada biji-bijian seperti beras merah dan sereal oatmeal

Serat memiliki banyak manfaat yang dengan ajaibnya membantu tubuh kita menjalankan perannya dengan sebaik mungkin. Ingin tahu keajaiban makan makanan mengandung serat? Simak penjelasan di bawah ini.

  1. Mendapatkan Berat Badan Ideal

Obesitas atau berat badan berlebih menjadi salah satu masalah yang sulit dikendalikan. Untuk seseorang yang mengalami obesitas, mempunyai badan ideal dan normal menjadi sebuah dambaan. Maka dengan makan yang mengandung serat ini dapat berperan sebagai asupan nutrisi yang lebih baik ketimbang makanan dengan kandungan tinggi kalori.

 

  1. Mengefisienkan Proses Detoksifikasi

Detoksifikasi merupakan sebuah usaha penetralan toksin atau racun di dalam tubuh. Bersamaan dengan sisa makanan yang teringgal di dalam usus dan belum mengalami fermentasi oleh bakteri, serat bekerja untuk mengurangi endapan kotoran yang ada pada usus dan membebaskan racun di dalamnya.

  1. Mencegah Konstipasi dan Melancarkan Percernaan

Konstipasi atau sembelit yang tidak segera diatasi maka akan menimbulkan penyakit yang berkelanjutan, seperti wasir. Oleh sebab itu, serat sangat penting bagi tubuh karena sifatnya yang dapat menyerap air, menjadikan feses kian lunak dan lebih mudah dikeluarkan anus.

 

  1. Risiko Diabetes Tipe 2 akan Menurun

Diabetes tipe 2 merupakan sebuah penyakit yang disebabkan ketidakmampuan tubuh untuk memproduksi insulin sesuai dengan kebutuhan tubuhnya. Insulin ini hormon yang ada pada pankreas, yang bekerja untuk mengendalikan kadar gula darah.

Proses ini terjadi ketika serat yang masuk ke dalam tubuh hanya akan melewati saluran pencernaan dan tidak memerlukan proses pencernaan, maka makanan berserat memiliki kecenderungan tidak bisa menaikkan kadar gula seperti makanan yang mengandung nutrisi selainnya. Bagi penderita diabetes tipe 2 sangat dianjurkan untuk makan yang mengandung serat secara alami mengingat manfaatnya yang begitu luar biasa.

 

  1. Pencegahan pada Kemungkinan Polip Usus

Penyakit ini disebabkan oleh usus yang mengalami peradangan. Peradangan terjadi karena menumpuknya berbagai jenis makanan pada usus karena tidak dikeluarkan menjadi feses. Selain itu, penumpukan berbagai jenis makanan ini tentunya menghadirkan bakteri dan jamur di dalam tubuh sehingga menimbulkan reaksi peradangan. Ditambah apabila pemberian obat terlambat dilakukan. Maka serat di sini sangat berperan penting agar sistem pencernaan berjalan dengan lancar.

 

Mengingat betapa ajaibnya fungsi serat, namun apabila mengkonsumsi makanan berserat dilakukan secara ngawur dan berlebih juga akan sangat berbahaya. Untuk itu, perlu sekali mengetahui kadar serat yang dibutuhkan tubuh perharinya dan tentunya menyesuaikan usia masing-masing.

  • Pada anak-anak usia 1-3 tahun memerlukan serat 16 g
  • Pada anak-anak usia 4-10 tahun memerlukan sekitar 20-25 mg perhari.
  • Pada remaja memerlukan sekitar 30-35 gr perhari.

 

Sedangkan berdasarkan jenis kelaminnya, kebutuhan serat juga berbeda. Pada laki-laki memerlukan 38 g perhari. Sementara untuk perempuan usia di bawah 50 tahun memerlukan 25 g setiap harinya. Serat memang baik bagi tubuh. Namun, segala sesuatu yang baik tetap ada porsinya.

 

Sumber Gambar : intermountainhealthcare.org

 Gejala, Proses Diagnosis, dan Cara Mengatasi Distonia

Kasman
Posted in Blog

 

Distonia merupakan suatu kondisi medis berupa gerakan otot berulang secara tidak sadar. Timbulnya kondisi ini menyebabkan terus terjadi kontraksi otot tanpa terkontrol. Fungsi otak menjadi tidak mampu lagi mengontrol gerakan otot dan berisiko menyebar dari satu bagian tubuh ke seluruh tubuh, bahkan bisa berkembang menjadi komplikasi.

Gejala Distonia

Menghadapi fakta adanya gangguan kesehatan berupa gerakan berulang atau spasme otot ini, diharapkan Anda mengetahui gejalanya sejak dini. Tujuannya agar dapat mengatasinya secepatnya dengan tepat. Gejala yang dapat dialami oleh penderitanya adalah merasakan kedutan atau gemetar (tremor) pada bagian tubuh tertentu. Anggota tubuh yang mengalaminya bisa berada pada posisi yang tidak seperti seharusnya, misalnya leher dalam kondisi miring atau kondisi seperti memicingkan mata.

Kram otot juga dialami pada bagian yang mengalami distonia. Apabila terjadi pada kelopak mata, terdapat gejala berupa mata berkedip tanpa terkendali dan tidak disadari. Gangguan untuk berbicara dan menelan juga bisa dialami apabila spasme ototnya terjadi di pita suara atau kerongkongan. Mengenai kondisi yang mencemaskan dan mengganggu aktivitas normal penderitanya ini, sebaiknya segera diterapkan cara mengobati distonia yang cepat dan tepat.

Proses Diagnosis Distonia

Setiap kondisi gangguan kesehatan seharusnya segera diperiksakan ke dokter untuk mengetahui gejalanya. Jika sudah mengalami suatu gejala dan tidak juga mereda setelah dilakukan penanganan pertama, maka segeralah bawa ke dokter untuk diperiksa dan memperoleh cara mengobati distonia yang tepat.

Pada tahap pertama, dokter akan melakukan tindakan pemeriksaan diagnosis yang terdiri dari wawancara medis mengenai gejala dan riwayat kesehatan pasien serta pemeriksaan fisik. Pemeriksaan fisik dilakukan guna menentukan gejala serta menelusuri letak otot yang mengalami spasme. Dibutuhkan pemeriksaan penunjang untuk memberikan diagnosis pastinya melalui serangkaian tes.

Tes diagnosis yang dilakukan ada beberapa jenis. Tes pertama adalah EMG atau elektromiografi yang bertujuan merekam aktivitas listrik di otot-otot tubuh. Tes kedua adalah pencitraan, baik menggunakan CT Scan atau MRI yang bertujuan mendeteksi abnormalitas organ dan otot-otot di sekitar tubuh. Pencitraan juga dapat mencari penyebab kondisi ini jika disebabkan oleh stroke ataupun tumor otak.

Cara Mengatasi Distonia

Setelah dipastikan hasil diagnosisnya dan memang dinyatakan positif mengalami distonia, penderita akan diberikan penanganan khusus. Cara mengobati distonia tersebut juga disesuaikan dengan kondisi dan penyebab distonia pada masing-masing pasien itu sendiri.

Pengobatan utama yang diberikan dokter adalah mengurangi kontraksi otot yang menimbulkan spasme otot tubuh yaitu dengan cara memberikan suntikan botulinum toxin (botox). Suntikan tersebut diberikan tepat di area otot yang kaku. Suntikan ini diulang setiap 3 bulan sekali. Sayangnya, obat ini hanya mampu bertahan sampai beberapa bulan.

Selain cara mengobati distonia lewat obat suntikan tersebut, terdapat pemberia obat-obatan medis oleh dokter guna meringankan gejala dan agar dapat berangsur menghilang. Dikutip dari alodokter.com, obat-obatan tersebut adalah diazepam, baclofen, lorazepam, clonazepam, dan trihexyphenidyl yang semuanya mampu memengaruhi sinyak di otak agar kondisi penderita bisa berangsur normal kembali.

Tindakan fisioterapi termasuk dalam cara mengobati distonia. Fungsinya adalah untuk meregangkan otot yang kaku dan mengembalikan kontraksi otot. Metode fisioterapi dilakukan dalam beberapa tahap dan sudah dijadwalkan terapis sampai keluhan tertangani dengan sempurna. Terapi relaksasi otot lainnya yang bisa dicoba yaitu yoga dan pilates.

Rujukan untuk dilakukan operasi atau bedah, tentu menjadi pilihan terakhir jika memang diperlukan. Opsi terakhir ini dilakukan apabila muncul distonia berat ataupun yang tidak dapat ditangani oleh obat-obatan. Meski akan dilakukan tindakan operasi, sebaiknya tetap dilakukan setelah faktor penyebab distonia ditangani terlebih dahulu.

 

Sumber artikel:

www.alodokter.com

www.halodoc.com

www.honestdocs.id

 

Sumber gambar:

www.halodoc.com

 

Gejala dan Penyebab Distonia yang Perlu Disadari Sebelum Terlambat

Kasman
Posted in Blog

 

Pernahkah Anda melihat orang yang bagian tubuhnya sering bergerak sendiri secara berulang-ulang? Itulah pertanda bahwa orang tersebut mengidap distonia. Kondisi ini terbilang serius karena jika tidak ditangani akan merambah ke bagian tubuh lainnya. Gerakan berulang yang tidak terkontrol ini dilakukan tanpa sadar oleh penderitanya akibat satu dan lain hal.

Penyebab distonia di bawah ini bisa Anda pahami satu per satu untuk mendapatkan jawabannya. Meski belum diketahui secara pasti, namun beberapa hal bisa diindikasikan mempunyai pengaruh terhadap timbulnya spasme otot yang menyebabkan bagian tubuh bisa bergerak-gerak sendiri tanpa sadar.

Gejala Distonia

Gerakan berulang-ulang ini menyebabkan penderita distonia umumnya mempunyai postur tubuh tidak normal dan terkadang gemetaran (tremor). Fakta gangguan koordinasi ini bisa mengganggu aktivitas sehari-hari penderitanya. Tidak hanya berupa gejala ringan berupa pergerakan berulang tanpa sadar, terdapat beberapa gejala penyerta lainnya.

Penderita distonia ini pada awalnya mengalami kontraksi otot yang bisa terjadi di bagian tubuh tertentu atau seluruh bagian, misalnya tungkai, leher, atau lengan. Umumnya, distonia fokal bisa timbul setelah usia 21 tahun dan berawal dari wajah, leher, dan wajah. Kontraksi otot ini muncul saat melakukan kegiatan tertentu, terlebih yang repetitif, seperti menulis dan menjahit. Kontraksi otot tersebut akan semakin parah jika penderitanya mengalami stres, kelelahan, dan cemas. Kontraksi akan lebih terlihat seiring berjalannya waktu.

Penyebab Distonia

Melihat gejalanya yang sangat beragam dan rentan semakin parah, penderitanya harus segera memahaminya dan memeriksakan kondisinya tersebut ke dokter. Berbagai gejala tersebut disebabkan oleh berbagai hal. Penyebab pertama distonia adalah trauma yaitu berupa cedera kepala yang dapat merusak impuls saraf dari otak sampai ke otot tubuh, sehingga otak tak dapat memberikan impuls gerakan motorik otot. Infeksi otak juga dapat memicu gerakan berulang yang tidak terkontrol tersebut.

Stroke juga sangat memicu kondisi ini karena berkaitan dengan kelainan pembuluh darah di otak yang menyebabkan penyumbatan ataupun pendarahan. Penyakit Parkinson juga berbahaya karena merupakan suatu gangguan saraf karena adanya kerusakan otak bagian substansia nigra yang mempunyai gejala khas berupa tremor, kaku kaki dan tangan, gerakan lambat, dan gangguan keseimbangan.

Penyebab distonia berikutnya adalah obat psikotik yang ternyata mempunyai efek samping memicu distonia akut. Penyakit Wilson dan Huntington juga berisiko menimbulkan gerakan berulang tanpa sadar ini.

Komplikasi Distonia

Sayangnya, sampai saat ini belum ada cara untuk menyembuhkan distonia. Tapi, beberapa pengobatan berikut dapat dilakukan untuk mengurangi frekuensi kemunculan gejala dan tingkat keparahannya. Mengingat fakta tersebut, tentu gejalanya harus segera ditangani agar tidak semakin parah. Bagaimanapun juga, suatu kondisi yang tidak segera ditangani akan menyebabkan komplikasi.

Jika penyebab distonia juga sangat kuat dan berisiko, maka kemungkinan komplikasi juga lebih besar. Untuk itu, Anda harus menyadari gejalanya sejak awal, komplikasi, dan efeknya jika distonia tidak segera ditangani. Dilansir dari halodoc.com, berbagai komplikasi dystonia adalah keterbatasan gerak dan kesulitan menggerakkan rahang, menelan, atau berbicara.

Kelelahan dan rasa nyeri yang diakibatkan kontraksi otot berlebihan juga menjadi salah satu bentuk komplikasi. Kebutaan apabila distonia menyerang kelopak mata juga bisa terjadi apabila penyebabnya sangat mendukung. Persoalan psikologis, di antaranya cemas, depresi, ataupun menarik diri dari lingkungan sosial, merupakan pemicu komplikasi gerakan otot yang semakin tidak terkontrol, bahkan bisa menyebar ke bagian tubuh lainnya.

 

sumber artikel:

www.halodoc.com

www.honestdocs.id

www.alodokter.com

 

sumber gambar:

www.honestdocs.id

www.halosehat.co.id

 

Epididimitis Penyakit Berbahaya, Bagaimana Cara Mencegahnya?

Kasman
Posted in Blog

 

Pada remaja hari ini sangat ironis sekali karena penyakit alat reproduksi menular begitu marak dan sepertinya sudah tidak aneh lagi. Hal ini begitu mengerikan, terlebih lagi jika penyakit yang timbul memang atas dasar perbuatan terlarang, bukan disebabkan dari bentuk penularan yang lainnya.

Begitu banyaknya penyakit alat reproduksi yang menjangkit remaja saat ini. Seperti Gonorhea, serviks, AIDS dan juga Epididimitis. Pada pembahasan ini, akan membahas mengenai Epididimitis itu sendiri.

Sudah tahu apa itu penyakit epididimitis? Apakah penyakit ini terdengar asing bagi teman-teman pembaca semua? Epididimitis merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh peradangan yang terjadi pada epididimis. Epididimis ini terletak pada bagian dari anatomi yang terdapat pada alat kelamin pria. Dari hasil badan statistik, menyebutkan bahwa penyakit epididimitis ini disebabkan karena penyakit seksual menular serta infeksi bakteri yang cara bekerjanya menyerang saluran kencing pada pria.

Epididimis ini letak tepatnya di dalam kantung pelir. Struktur epididimis tersebut berupa saluran yang letaknya di belakang testis yang memiliki bentuk melengkung. Pada saluran ini memiliki fungsi untuk membawa sel sperma keluar, menuju bagian uretra saat sedang berhubungan seksual. Penyakit epididimitis ini rentan menjangkit pria dengan usia 15-35 tahun.

Jangan keliru dengan perbedaan epididimis dengan epididimitis. Cara membedakannya sederhana, bahwa epididimitis ada penyakitnya, dan epididimis adalah organ yang terjangkit penyakit tersebut.

Selain hubungan badan, apa yang menyebabkan penyakit ini dapat terjadi? Dilansir dari Alodokter, sebagian besar kasus penyakit epididimitis ini dapat disebabkan oleh infeksi bakteri. Namun selain itu, penyakit ini juga dapat disebabkan oleh:

  • Terdapat endapan urine di dalam epididimis. Kondisi ini dapat terjadi karena ketika urine mengalir kembali ke epididimis. Urine yang terdapat pada kandung kemih tidak seutuhnya atua seluruhnya keluar, tetapi terdapat endapan atau masih terdapat sisa unrine tersebut hingga membusuk dan mengkristal.
  • Gondongan (mumps). Penyakit ini sangat umum sekali, bahkan datangnya penyakit ini sering kali serentak terjadi pada anak. Penyakit ini adalah pembengkakan yang terjadi pada leher, kelenjar ludah, di bawah rahang dengan gejala sulit menelan, serta berkurangnya pendengaran.
  • Infeksi menular seksual. Dengan cara ini, berbagai macam penyakit mudah sekali menular terlebih lagi jika penyakitnya adalah penyakit alat reproduksi.
  • Tuberkulosis adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri yang menyerang paru dan sistem pernapasan. Gejalanya dapat berupa bercak darah, batuk berdarah, berkeringat di malam hari, serta penurunan berat badan secara drastis.
  • Torsio testis. Yaitu cedera yang terjadi pada testis.

 

Sementara itu, bentuk epididimitis ini melengkung dan mengkristal. Penyakit ini bila dianalisa lebih dalam betul-betul berbahaya. Namun, meski begitu penyakit ini masih bisa dicegah dengan langkah berikut sesuai dengan yang diulas pada Doktersehat. Yaitu:

  1. Perkuat proteksi diri. Yaitu harus pantang agar tidak melakukan hubungan seksual apalagi di luar pernikahan. Karena hal ini memang melanggar etika, moral, norma serta hukum agama.
  2. Monogami. Yaitu melakukan hubungan seksual dengan satu pasangan yang tentunya tidak terinfeksi. Hal ini dimaksudkan untuk pasangan yang sudah sah menjadi suami istri.
  3. Mencegah pelecehan anak. Yaitu, harus memberikan perlindungan terhadap anak usia dini. Karena saat ini banyak pelecehan yang terjadi pada anak.
  4. Vaksinasi gondok. Pemberian vaksinasi pada gondok atau mumps adalah salah satu cara untuk mencegah terjadinya epididimitis. Karena dengan mencegah gondok, juga telah mencegah epididimitis.
  5. Melakukan sunat. Pria yang sudah disunat, mencegah pada penyakit alat reproduksi. Karena dengan disunat dapat mencegah terjadinya penumpukan urine yang belum steril saat sedang kencing.

 

Nah, itulah pengertian, gejala, penyebab serta pencegahan yang dapat dilakukan untuk mencegah epididimitis. Penyakit ini harus dihindari karena dapat menyebabkan kemandulan. Untuk itu, ayo segera sadari dan hindari segala penyebabnya.

 

Sumber foto: elifmedika.com

Distonia adalah Gerakan Tidak Sadar? Inilah Penjelasannya

Kasman
Posted in Blog

 

 

Distonia adalah suatu kondisi medis berupa timbulnya gerakan otot secara tidak sadar. Kondisi ini menyebabkan adanya gerakan berulang yang tidak terkontrol. Fungsi otak menjadi tidak normal karena tidak mampu mengontrol gerakan otot ini dan berisiko menimbulkan distonia yang menyebar dari satu bagian tubuh ke bagian tubuh lain bahkan bisa seluruh tubuh. Akibat gerakan otot ini, penderitanya mempunyai postur tubuh yang aneh dan mengalami gemetar (tremor).

Gejala Distonia

Gerakan otot berulang ini juga disertai kejang dan bisa bertahan lama. Akan tetapi, konteks kejang dan distonia ini mempunyai perbedaan. Banyak faktor yang dapat menyebabkan adanya gerakan tidak terkontrol ini, meskipun penyebab utamanya belum diketahui. Kondisi ini bisa dialami anak-anak ataupun orang dewasa.

Kontraksi otot tanpa sadar yang disebut juga dengan istilah spasme ini bisa muncul dalam intensitas ringan sampai berat dan menganggu aktivitas sehari-hari penderitanya. Pada umumnya, kondisi ini dimulai dari gerakan tidak sadar pada otot-otot kecil, seperti jari-jari tangan, wajah, leher, dan semakin menjalar ke bagian otot-otot besar lainnya.

Distonia adalah kondisi serius yang dapat memengaruhi satu bagian tubuh (distonia fokal), dua atau lebih bagian tubuh yang berhubungan (distonia segmental), atau bahkan seluruh bagian tubuh (distonia general). Hal ini sangat memengaruhi pergerakan penderitanya dengan kontraksi otot (spasme) yang bervariasi. Bagian yang sering mengalami gangguan ini adalah leher, kelopak mata, rahang atau lidah, dan kotak suara serta pita suara.

Faktor Risiko Distonia

Dikutip dari alodokter.com, distonia bukanlah penyakit yang sering dijumpai. Tercatat, penyakit ini dialami oleh 1% populasi dunia dengan jumlah wanita lebih besar dibandingkan pria. Berbicara tentang risiko mengalami gangguan ini, terdapat berbagai faktor risiko yang harus Anda pahami sejak dini sebagai bentuk kewaspadaan terhadap kondisi ini.

Kondisi genetik tertentu sangat berpengaruh pada kemungkinan mengalami distonia. Penyakit atau kondisi medis tertentu, misalnya penyakit Wilson, Huntington, atau Parkinson, juga lebih berisiko. Apabila mengalami cedera otak traumatik, ke depannya bisa lebih berisiko mengalami gangguan gerakan tak terkontrol ini. Kondisi stroke sangat mungkin menjadikan Anda menderita distonia. Kekurangan oksigen dan keracunan karbon monoksida juga harus dihindari karena juga bisa memicu.

Kondisi serius berupa infeksi yaitu tuberkulosis dan ensefalitis juga sangat berpengaruh. Tumor otak atau kelainan otak lainnya yang disebabkan kanker juga sangat berisiko menimbulkan distonia. Terakhir, faktor risiko yang menyebabkan distonia adalah adanya reaksi terhadap pengobatan tertentu.

Penanganan Distonia

Pada tahap awal, dokter melakukan wawancara medis mengenai gejala dan riwayat kesehatan pasien. Setelah itu, dokter melakukan pemeriksaan fisik. Apabila diperlukan, dokter akan melakukan pemeriksaan penunjang, di antaranya adalah pemeriksaan darah atau urin, pemeriksaan MRI atau CT Scan, dan EMG.

Jika penderita dinyatakan positif mengalami distonia, maka pengobatan distonia yang dilakukan adalah pemberian obat-obatan medis sampai fisioterapi. Suntikan yang bisa bekerja menghambat senyawa penyebab kekakuan otot agar tak sampai memengaruhi target otot sasaran juga diberikan. Fisioterapi seperti pijat dan peregangan otot juga diterapkan kepada pasien untuk meredakan nyeri otot, terapi bicara, terapi sensorik guna mengurangi kontraksi otot, dan latihan pernapasan juga yoga, semuanya diterapkan.

Mengenai langkah operasi, hal ini akan dilakukan sebagai opsi terakhir dan hanya akan dilakukan jika memang diperlukan. Dalam kondisi jika tidak bisa diobati dengan obat-obatan dan tindakan pengobatan lainnya, dilakukanlah tindakan bedah berupa operasi stimulasi otak dalam dan operasi denervasi selektif.

 

sumber artikel:

www.alodokter.com

www.halodoc.com

www.honestdocs.id

 

sumber gambar:

www.unisaudems.org.br

www.halodoc.com